Berkelana di Stasiun Gambir

Huffttt… Badan ini terasa letih, namun untuk menghilangkan kebosanan gue dalam menanti keberangkatan kereta yang masih 2 jam lagi, gue coba menuliskan sederet kata dengan jemari gue ini.

Stasiun Gambir, dan ini adalah pertama kalinya gue nginjekin kaki gue ke stasiun yang gedenya segede cinta gue ke dia #halah. Gue emang lebih familar dengan Stasiun Pasar Senen untuk urusan naik kereta, ya tau sendiri lah, kereta di stasiun Pasar Senen adalah kereta kelas ekonomi yang harganya cukup merakyat.

Namun kali ini gue memutuskan untuk naik kereta eksekutif, maklumlah sekarang udah kaya ?. Endak-endak, yang itu becanda, gue memutuskan buat naik kereta eksekutif karena nggak ada temen balik ke kampung, alias sendirian. Lho apa hubungannya emang?

Ya gini ya, kalau kita naik kereta ekonomi bareng-bareng sama keluarga misal, kalau kita capek kita bisa duduk dengan gaya bebas. Mau kaki slonjoran di atas kursi depannya juga nggak ada yang ngamuk, wong keluarga sendiri. Coba naik kereta ekonomi sendirian, itu selama hampir 10 jam perjalanan Jakarta-Madiun bisa di pastiin kaki gue bakal dikerubutin semut kesemutan. Makanya itu gue memutuskan buat naik kereta eksekutif yang bangkunya lebih nyaman.

Oke kita balik ke topik.

Karena ini pertama kalinya gue ke stasiun Gambir, praktis gue kaya orang udik yang nggak tau musti jalan kemana. Mau tanya satpam ya gengsi, ntar di kira ndeso banget. Ya akhirnya gue muter-muter tanpa arah dan tujuan.

Kesan pertama gue ke Stasiun ini jelas, luas dan keren. Beda jauh sama stasiun pasar senen dan stasiun tanah abang. Saking luasnya ini stasiun, gue musti muter-muter buat nyari mesin cetak tiket mandiri, mana nggak ada petunjuk jalan di mana tempat mesin cetak mandiri lagi.

Setelah cukup lama muter-muter akhirnya ketemu juga itu mesin yang gue cari-cari. La kok ternyata dia itu begitu deket dengan lokasi tersebut. Guenya aja yang gampang menyerah dan memutuskan puter balik di setiap kesempatan pencarian.

Jadi gue muter 3x, pertama di bagian depan stasiun dan ketika gue hampir sampai di lokasi, gue ragu dan puter balik. Di kesempatan ke dua juga kaya gitu, tapi kini ganti di bagian belakang stasiun. Sampai akhirnya gue nyerah dan memutuskan buat singgah di Alfamart dan tanya sama mbak-mbak kasirnya.

Saran gue, kalau gak tau jalan. Jangan sok-sokan gengsi segala, daripada nyasar kaya gue yang ada.

Post Author: Mega

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *