Gue, si Manusia Bunglon

Apa yang identik dari seekor bunglon? Bunglon itu memiliki kemampuan untuk merubah warna tubuhnya sesuai dengan situasi, sama halnya dengan gue. Bukan bukan, gue bukan manusia yang memiliki kemampuan untuk merubah warna tubuh gue juga, tapi kalaupun gue bisa, gue akan memilih untuk merubah warna tubuh gue jadi transparan biar tembus pandang dan bisa… bisa apa hayo? sudah lupakan.

Dalam kehidupan pribadi gue, gue di kenal sebagai orang yang introvert. Jujur gue juga menyadari itu, kalau di ibaratkan, 1 huruf yang keluar dari mulut gue itu mungkin harganya sekitar 10ribu rupiah kali. Mahal kan? mahal bray, saking mahalnya mak gue aja pernah bikin sayembara buat bikin gue mangap. Dih pada gak percara, serius gue.

Jadi alkisah ni ya, lebaran beberapa tahun yang lalu, mak gue tercinta ini nantangin keluarga gue buat bikin gue jadi nyrocos. Semua berawal dari perkataan tante gue yang ngomong dalam bahasa Jawa

“Le, mbok yo ojo meneng wae (Mas, jangan diam aja dong)”, begitu ucapnya ketika melihat gue anteng-anteng aja.

Waktu itu, gue cuma jawab dengan senyum manis khas gue doang.

“Yo ngono kui Airul, paling yo mung montak mantuk karo mesem, tak bayar nek iso gawe anakku ki nyriwis (ya begitulah Airul, paling cuma manggut-manggut sambil senym, tak bayar kalau bisa bikin anakku ini cerewet)”, sahut Ibu gue di iringi tawa dari seiisi ruangan, tapi gue cuma senyum doang.

Gue emang gak terbiasa ketawa sampe mangap, bahkan ketika gue nonton sesuatu yang berbau komedi, gue gak akan bisa ketawa mangap. Jadi jangan pernah nantangin gue lomba ketawa mangap ala malih tong tong, jelas gue akan kalah telak.

Bagi saya, diam bukan hanya sekedar diam. Diam adalah berfikir, kemudian melakukan apa yang kita fikirkan itu dengan tindakan, bukan ucapan.

Cerita diatas adalah cerita singkat dari sisi lain diri gue, pada dasarnya diem adalah hal yang paling dominan dalam diri gue, jadi wajar kalau orang sering bilang gue itu sook cool (bahkan seorang Maya juga mengatakan demikian). Namun disisi lain gue ini adalah seorang yang bisa berubah layaknya bunglon menjadi orang yang sedikit gila, jail dan konyol. Terlebih jika gue bersama orang-orang yang membuat gue jadi sedikit sedeng.

Seperti di kantor, gue terbiasa becanda dengan teman-teman gue, nyeletuk kata-kata spontan yang bikin semua terbahak. Bahkan tak jarang jika gue bersama cak Dian dan cak Ipung (dua orang senior gue), akan sering nongol ucapan cok dan tel (namun dalam taraf bercanda).

Kalau di kampung, gue sering menggila sama sahabat gue Fahmi Ahmad. Kalau gue inget-inget zaman SMA dulu, kita pernah jadi bodyguardnya pak Budi, guru matematika sekaligus walikelas kami dulu. Kita di jadiin bodyguard karena kita keseringan ngobrol di kelas, makanya di setiap pelajaran matematika, kita di suruh maju di depan kelas buat duduk di sebelah beliau.

Jika dirumah (kakak gue), gue sering menggila dengan Adik sepupu gue, naik motor butut ke kota sebesar Tangerang. Hingga bikin video di bawah ini yang gue pribadi nganggep emang sedikit koplak sih.

Jadi kalau bisa di bilang secara kepribadian gue memang diem, namun gue bukan orang kuper, antisosial dan sebagainya. Gue selalu berusaha memposisikan diri gue di posisi yang tepat, terlebih lagi jika dengan orang yang baru gue kenal (atau hanya mengenal gue sebatas kulit). Gue akan diem seribu bahasa ke orang yang baru gue kenal, karena sejujurnya gue berusaha menjaga sikap atau ucapan gue, karena gue takut orang yang baru kenal gue salah menilai sikap dan ucapan gue.

That’s it!

Post Author: Mega

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *