Ketika Privasi Tak Lagi Dihargai

Beberapa hari ini gue mangkel bin sebel banget karena gue mendapatkan begitu banyak invitation ke akun BBM gue, bahkan gue hampir aja un-install aplikasi ini karena saking sebelnya, tapi ya kok ada banyak kontak temen-temen (cewek) gue yang sayang banget kalau gue nggak bisa berkomunikasi sama mereka lagi.

Mungkin ini emang kesalahan gue, ketika gue membagikan pin BBM gue ke Risma melalui comment di Instagram. Tapi tentu orang lain sama sekali gak berhak buat untuk menggunakan data pribadi gue, karena gue hanya memberikan izin kepada Risma aja bukan ke online shop yang pengen promosi. Lha kok online shop, yang invite cewek aja kalau gue gak kenal gak bakal gue approve.

Itu adalah kasus pertama tentang pelanggaran privasi yang pernah gue dapet, kasus lain yang juga bikin gue kesel dan baru gue inget karena Pak Dhe Dian Kuncoro juga kesel sama marketing credit card atau KTA nelfon dia buat nawarin kartu kredit atau apalah-apalah itu. Dan ketika ditanya dapet nomernya dari mana, eh di jawab “Dari Grup WA”, ada juga ketika ditanya langsung di matiin telfonnya, tut tut tut, welada.

Dari takutnya mereka ketika ditanya, sampe-sampe matiin telfon, jelas mereka sebenernya tau kalau mereka itu telah melanggar hukum. Tapi ya kok kenapa tetep melanggar privasi demi sesuap nasi?

Kalau kisah gue sendiri, ya sama aja sebenernya, marketing kartu kredit.

Gue inget banget, kalau ketika gue bikin kartu kredit pertama kali, Bank yang gue hubungin adalah Bank Mega. Masalahnya adalah, kenapa bisa marketing Bank Bukopin, CIMB Niaga, dll tau nomer hp gue? ya dari marketingnya Bank Mega lah.

Oke, gue emang gak bisa nyalahin Bank Mega, karena jelas ketika gue submit data ke website mereka, gue menyetujui jika data gue bakal di berikan ke pihak ketiga. Namun tentu pihak ketika ini sama sekali gak berhak nyebarin nomer telfon gue ke orang lain dong, apalagi orang yang gak ada kaitannya sama Bank Mega.

Beberapa orang mungkin cuek aja sama hal kaya ginian, tapi beberapa tentu ngrasa terganggu. Awalnya gue sih fine-fine aja, tapi lama-kelamaan ya risih juga lah.

Sebenernya kasus kaya gini sering kali terjadi di kehidupan sehari-hari ya. Misal kita ada temen yang ganteng/cantik, trus ada temen yang minta no. hp/pin bb, ini kalau yang punya belum ngasih izin, jangan deh sekali-kali di kasih. Bukan cuma masalah nglanggar undang-undang dan bakalan terjerat hukum, tapi tentang tata-krama juga man.

Gue masalahnya sangat menghargai privasi orang lain, makanya gue gedek juga kalau privasi gue di acak-acak. Kaya bbm di atas aja, gue di kasih pin bbm temennya temen gue, gue aja nanya dulu “Ini udah ada izin yang punya belum?”, baru gue berani invite. Btw, jangan kepo itu yang BBM gue siapa, yang jelas itu cewek dan yang dikenalin juga cewek, dua-duanya cakep, kalau pada mau dikenalin juga ntar gue izin dulu sama yang punya.

Ini mungkin dianggap sebagian orang adalah kasus sepele, tapi satu hal yang harus diperhatikan adalah ini melanggar hukum man. Ada undang-undang ITE terkait perlindungan data pribadi dari penggunaan tanpa izin, Pasal 26 UU ITE mensyaratkan bahwa penggunaan setiap data pribadi dalam sebuah media elektronik harus mendapat persetujuan pemilik data bersangkutan. Setiap orang yang melanggar ketentuan ini dapat digugat atas kerugian yang ditimbulkan.

Bunyi Pasal 26 UU ITE adalah sebagai berikut:

  1. Penggunaan setiap informasi melalui media elektronik yang menyangkut data pribadi seseorang harus dilakukan atas persetujuan Orang yang bersangkutan.
  2. Setiap Orang yang dilanggar haknya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengajukan gugatan atas kerugian yang ditimbulkan berdasarkan Undang-Undang ini

So, hargai privasi orang, kalau diri kita juga pengen di hargai.

Post Author: Mega

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *